SELAMAT DATANG

Kalau Anda Anak Muda Indonesia yang sedang bermasalah dengan Aliran Sesat di sekolah, kampus, rumah dan kantor? Waspadalah, laporkan ke polisi terdekat. Selamatkan Indonesia dari Aliran Sesat

Minggu, 04 November 2007

ALIRAN SESAT DI JAWA TIMUR : Al Quran Hijau dan Amanah Keagungan Ilahi

Dua Lagi aliran yang diduga sesat, MUI Setempat masih meneliti ajaran dari Aliran Al Qur'an Hijau di Mojokerto dan Aliran Amanat Keagungan Ilahi di Nganjuk
02 Nopember 2007
http://www.dutamasyarakat.com/rubrik.php?id=20642&kat=Nasional

MOJOKERTO–
Aliran sempalan Islam maupun Kristen sebenarnya sejak lama bertebaran di tanah air. Mencuatnya Al Qiyadah Al Islamiyah hanya mengungkap adanya gunung es kasus ini. Kini, aliran-aliran yang sebelumnya “tersembunyi” mulai kelihatan, antara lain aliran Udheng Ireng dan Mambalah di Mojokerto, Amanat Keagungan Ilahi (AKI) di Desa Jatirejo, Nganjuk, dan Alhaq di Pekanbaru.
Sebelum itu, Duta telah intens melaporkan adanya ajaran shalat di atas tanah di Waru, Sidoarjo, yang disebarkan Machrus Ali (45) yang mengaku syekh. Juga, aliran Ratu Adil yang disebarkan di Madiun oleh Rusmiyati (60), lulusan pasca sarjana bidang psikologi sebuah universitas terkemuka di Surabaya.
Selain itu, ada juga ajaran shalat dua bahasa (Indonesia dan Arab) yang telah disebarkan oleh mantan petinju Malang, Yusman Roy, yang belum lama keluar dari menjalani hukuman akibat ajarannya.
Bahkan, Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) selama 1980 hingga 2006 mencatat adanya 250 ajaran sesat. Al Qiyadah yang menjadi pemicu gunung es kasus ini memang tergolong ajaran sesat yang fenomenal, dengan penganut terbanyak.
Saat ini, Dewan Masjid Kabupaten Mojokerto dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Mojokerto, misalnya, mewaspadai merebaknya dua sempalan Islam yang berbeda dengan ajaran Islam umumnya. Yaitu Mambalah dan Udheng Ireng (kalau di-Indonesia-kan berarti Ikat Kepala Hitam).
Menurut informasi yang dihimpun Duta, Mambalah merupakan kelompok pengajian Al-Qur’an transliterasi Arab-latin dengan model kanan kiri. Kitab Al-Qur’an yang dipakai oleh jamaah dan bertujuan untuk membentuk muslim jenius itu memakai istilah Al-Qur’an hijau. Dan, yang dikaji hanya yang bertulisan latin.
Dalam mengungkapkan salam, mereka menggunakan “Salamun Alaikum” dan ada model baiat yang disebut misak dengan memandikan air kembang. Setelah di-misak, jamaah pria mendapatkan gelar “Abi”, sedangkan jamaah wanita “Umi”.
Sekretaris Dewan Masjid Kabupaten Mojokerto Nur Rokhmad mengatakan, informasi adanya ajaran Mamballah itu berasal dari salah seorang yang berada di Kota Kediri. Pusat aliran itu di daerah Pacet. “Untuk itu, saya terus melakukan pemantauan jamaah tersebut,” kata Rahmad kepada Duta, Kamis (1/11) kemarin .
Menurut dia, jamaah tersebut selalu pindah-pindah dari desa ke desa. “Mereka melakukan kegiatan rutinitas dengan cara berpindah-pindah dari jamaah satu, ke jamaah yang lain,” ujar Rahmad.
Untuk menghindari keresahan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. “Saya masih memantau saja lebih dulu, jika ajaran itu sesat dan bertentangan dengan ajaran Islam, kegiatan jamaah itu juga harus dihentikan,” jelas Rahmad.
Menurut informasi yang dia dapat, penganut Mambalah tidak mempercayai hadits nabi dan tidak menjalankan shalat lima waktu. Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat waspada terhadap kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya orang Islam namun malah menghancurkan Islam. “Sekarang ini sudah mulai banyak berbagai ajaran yang masuk di masjid-masjid dan ini harus diantisipasi keberadaanya,” tutur Rahmad.
Sementara, aliran Udheng Ireng dalam beraktivitas, para penganutnya berjubah hitam dan memakai ikat kepala berwarna hitam, sehingga disebut ajaran “Udheng Ireng”. Aliran ini terendus MUI Kota Mojokerto sejak Ramadhan 1428 Hijrah yang lalu.
“Kami mendapat masukan dari masyarakat ihwal ajaran itu,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Mojokerto KH Muhammad Qodri yang akrab dipanggil Gus Qodri kepada Duta, kemarin.
Dari hasil informasi yang didapat oleh Komisi Fatwa MUI Kota Mojokerto, ajaran Udheng Ireng tidak mengharuskan pengikutnya untuk melakukan ibadah wajib, seperti shalat, puasa, dan haji. “Hanya saja, syahadat yang mereka ucapkan sama dengan lazimnya umat Islam,” kata pengasuh Pesantren An-Nawawi ini.
Gus Qodri menambahkan, pada bulan Puasa lalu, komunitas ini beraktivitas di jalan Panggreman, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Prajurit Kulon, dan Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Mojokerto. “Secara fisik, komunitas ini memakai pakaian serba hitam dan memakai udheng, sehingga disebut Udheng Ireng,” tandasnya.
Ketua MUI Kota Mojokerto KH Faqih Utsman saat dikonfirmasi terpisah meminta warga melapor jika ada ajaran yang dianggap menyimpang. “Ini penting dilakukan agar generasi Islam terhindar dari ajaran-ajaran yang menyesatkan itu,” kata Gus Fakih, panggilan akrabnya.
Namun, sejauh amatan MUI Kota Mojokerto, belum ada kegiatan atau aktivitas keagamaan yang mirip dengan ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah. Meski demikian, ajaran selain Al Qiyadah Al Islamiyah, yang berpotensi menyesatkan umat tetap akan dipantau. “Semua ajaran harus kita waspadai, bukan hanya Al Qiyadah Al Islamiyah saja,” ujar Gus Fakih.

Sempalan Kristen
Selain sempalan Islam, ada juga dua sempalan Kristen di Mojokerto, yaitu Saksi Yehova dan Children of God. Gereja Jemaat Kristen Indonesia (GJKI) Mojokerto telah menyatakan kedua aliran itu sesat. Namun GJKI masih kesulitan melacak keberadaan kedua ajaran tersebut karena komunitas keduanya juga sering berpindah tempat.
“Di Kota Mojokerto ini juga ada ajaran yang menyimpang dan dianggap sesat oleh mayoritas gereja, yaitu Saksi Yehova dan Children of God. Jadi tidak hanya di Islam saja yang ada penyimpangan kemurnian ajaran, tapi di Kristen juga ada,” kata Pendeta Markus Kustardjo.
Markus mengatakan, penyimpangan ajaran Saksi Yehova ini terutama dalam hal konsepsi Trinitas. Menurut Pendeta Markus, Saksi Yehova tidak mengakui satu kesatuan antara Yesus, Tuhan Bapak, dan Roh Kudus. “Di Kota Mojokerto, banyak orang yang ikut ajaran ini,” jelas Markus.
Meski banyak pengikutnya, Saksi Yehova tidak memiliki gereja seperti lazimnya umat Kristen lain di Kota Mojokerto. “Untuk menjalankan peribadatan, pengikut Saksi Yehova selalu berpindah karena memang tidak diakui oleh gereja-geraja Kristen,” tandas Markus.
Sedangkan ajaran Children of God, menurut Pendeta Markus, lebih berbahaya. Karena ajaran ini membolehkan seks bebas, sebagai bentuk kasih terhadap Tuhan. “Salah satu ajaran sesat kelompok ini, Yesus diyakini sebagai hasil hubungan seks antara Allah dan Maria,” jelas Markus.
Namun, data pasti pengikut Saksi Yehova dan Children of God tidak diketahui, hanya diperkirakan mencapai kisaran 1 persen dari jumlah penduduk beragama Kristen di Kota Mojokerto. “Kami harap umat Kristen berhati-hati dengan ajaran mereka,” ujar Markus.

Ritual “Menjerit”
Sementara di Nganjuk, Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyrakat (Bakesbang Linmas) setempat sedang memantau aliran Amanat Keagungan Ilahi (AKI) di Desa Jatirejo, Kecamatan Nganjuk. Menurut Kasi Keagamaan Bakesbang Linmas Nganjuk, Miftakhul Mujib, aliran ini berkembang di Desa Jatirejo sejak dua tahun lalu.
Penganutnya sekelompok warga setempat. Aliran ini mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Aliran yang data yang didapat Mujib didirikan di Jakarta pada 1969 ini memiliki paham tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi umat Islam, melarang kurban atau syukuran pada bulan Safar dan Ramadhan, serta tawaf-nya cukup mengitari Kabupaten Nganjuk dengan mobil. “Ciri khas mereka pakai baju putih-putih,” ujarnya.
Sementara, ritual dalam rumah sering dilakukan dengan mengeluarkan suara keras seperti menjerit dan menangis pada malam hari. Ritual inilah yang sempat mengganggu masyarakat sekitarnya dan ditentang.
“Kami telah mengumpulkan salah satu penganutnya, warga lain, dan keamanan desa untuk diajak bermusyawarah. Dan, kami akan terus memantau ritual AKI, bertentangan dengan ajaran agama-ajaran agama atau tidak,” imbuh Mujib.
AKI sendiri, kata dia, tak mau disebut sebagai aliran Islam atau organisasi massa. Untuk itu, Bakesbanglinmas juga bingung tentang status AKI. “Agung Basuki, salah satu penganutnya, tak mau dikatakan bahwa AKI adalah aliran atau ormas. Mereka menganggap AKI adalah perorangan yang ingin selamat dengan ajaran mereka sendiri,” ujarnya.
Dikonfirmasi soal ini, Titin Hermaning yang merupakan salah satu penganut AKI di Desa Jatirejo membantah AKI bertentangan dengan ajaran Islam. Dia juga membantah AKI melarang penganutnya menunaikan shalat lima waktu.
“Kami mengaku Allah SWT sebagai tuhan dan Muhammad rasulullah serta berpatokan pada Al-Qur’an,” ujar salah satu saudara Agung Basuki, penganut AKI lainnya itu.
Dia juga membantah informasi yang diterima Bakesbang Linmas Nganjuk tentang penganut AKI yang melakukan tawaf dengan mengelilingi Kabupaten Nganjuk dengan naik mobil. “Kami tak mengajarkan itu. Kalau haji ya berangkat ke Makkah,” ujar Titin yang menyebutkan bahwa jamaah AKI juga banyak yang telah menunaikan ibadah haji ke Makkah.
Titin juga menolak AKI merupakan ormas layaknya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Menurut dia, AKI hanyalah amanah yang disampaikan kepada semua orang tanpa mengenal agama, suku, dan ras. “Jika memang ingin mendapatkan doa dari kami, akan kita tampung,” ujarnya. Ditambahkan, doa tersebut bertuliskan Arab dan diyakini mampu memberikan ketenangan.(van/sp)