SELAMAT DATANG

Kalau Anda Anak Muda Indonesia yang sedang bermasalah dengan Aliran Sesat di sekolah, kampus, rumah dan kantor? Waspadalah, laporkan ke polisi terdekat. Selamatkan Indonesia dari Aliran Sesat

Rabu, 06 Februari 2008

Lagi, Nabi Palsu Sayuti di Bandung

Buku Nabi Palsu Gegerkan Bandung
Rabu, 06-02-2008 | 01:50:30

BANDUNG, BPOST - Kota Bandung gempar oleh kasus penodaan agama. Setelah nabi palsu Ahmad Moshaddeq, kota berjuluk Parijs van Java itu dihebohkan oleh beredarnya dua buah buku yang pengarangnya mengaku sebagai nabi terakhir.

Adalah Mohammad Sayuti atau Ahmad Sayuti, si pengarang dua buku itu.

Buku pertama berjudul "Kelalaian para pemuka agama dalam memahami kitab-kitab peninggalan nabi-nabi rasul allah (taurat, injil, dan Al-Quran) dengan segala akibatnya".

Sementara buku kedua berjudul "Mungkinkah Tuhan Murka".

Wakil Ketua Persis Jabar Rahmat Nadjieb mengatakan kedua buku tersebut telah memutarbalikkan fakta dan kebenaran.

"Ahmad Sayuti menganggap dirinya sebagai nabi yang diutus Allah dan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir," tegasnya, Selasa (5/2).

Ahmad Sayuti pun menganggap Alquran adalah kitab hukum bahasa Arab peninggalan Nabi Muhammad, putra Abdullah yang ditulis oleh para sahabatnya atas perintah Muhammad.

"Dia mengaku kalau Alquran turun pada 1993 saat dirinya mendapatkan wahyu," ungkap Rahmat.

Penyimpangan lain yang dikemukakan Sayuti dalam bukunya, adalah mengganti bacaan shalat kecuali surat Al Fatihah.

"Dia juga menganggap tafsir Alquran selama ini hanya kebohongan belaka dan kitab hadis Bukhori hanya kitab bohong yang isinya bukan perkataan Nabi Muhammad," katanya.

Dua buku karangan Sayuti, salah satunya diterbitkan pada 2005. Bahkan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jabar telah menerima langsung dari tangan Sayuti pada 2006.

Buku berjudul "Kelalaian para pemuka agama dalam memahami kitab-kitab peninggalan nabi-nabi rasul Allah (Taurat, Injil, dan Alquran) dengan segala akibatnya", bersampul abu-abu.

Sampul buku bergambar setengah bola dunia yang disorot oleh cahaya dari atasnya, seperti cahaya matahari. Diterbitkan pada 5 April 2005. Tidak dicantumkan nama penerbit. Tebal bukunya hanya 42 halaman.

Buku kedua berjudul "Mungkinkah Tuhanmu Murka" bersampul hijau dengan gambar yang sama seperti di buku pertama.

Di bagian atas judul tertulis "berbagai bencana terus menerus menimpa bangsa Indonesia. Begitu pula ahlak moral sudah hampir merata".

Kemudian di bagian bawah judul, tertulis, "Karena itu mari mawas diri (instropeksi) bersama saya Muhammad (Ahmad Sayuti) sehingga semuanya menjadi jelas". (dtc)

sumber : banjarmasinpost

Jumat, 14 Desember 2007

Tolak Anarkisme terhadap Aliran Sesat, tapi Harus Diberantas

Dituduh Ajarkan Aliran Sesat Pondok Pesantren Dibakar Massa

Serang, NU Online
Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda di Kampung Jaha Desa/Kecamatan Baros, Serang, Banten, Kamis, dihancurkan dan dibakar ratusan warga, karena diduga Ponpes milik Ust. Nursyahidin Salim tersebut telah mengajarkan aliran sesat.

Meski tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, gedung utama ponpes, enam kamar serta enam unit kendaraan roda dua hangus terbakar. Massa juga menghancurkan perabotan rumah tangga, peralatan elektronik, buku-buku, serta kaca-kaca jendela rumah. Sementara sekitar 50 orang santri yang mondok di pesantren tersebut, berlarian menyelamatkan diri.

Penghancuran dan pembakaran oleh massa berhasil dibubarkan, setelah dua pleton pasukan Dalmas Polres Serang tiba dilokasi kejadian.

Sementara itu, puluhan petugas pemadam kebakaran dari Pemkab Serang dengan dua unit kendaraan pemadam kebakaran, berhasil memadamkan api satu jam kemudian.

Sampai saat ini, belum diketahui siapa dibalik pelaku pengrusakan Ponpes tersebut, karena masih dalam penyelidikan petugas Reskrim Polres Serang.

Aksi anarkis yang dilakukan sekelompok warga tersebut, diduga dipicu dari kekecewan hasil pertemuan klarifikasi masalah dugaan adanya penyebaran aliran sesat yang dilakukan pimpinan pondok pesantren tersebut, Ust Nursyahidin Salaim di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Serang, di Gedung Islamic Center.

Pertemuan itu dihadiri sejumlah pengurus MUI Banten, Ketua MUI Serang, KH. A. Syafe’i AN, unsur Muspida Serang, para pimpinan Ponpes di Serang.

Pertemuan juga menghadirkan tiga orang saksi yakni, Adjat Sudrajat, Hj. Euis Suhartini, keduanya warga Baros, dan H Lulu Amrullah, warga Kaujon, Serang, serta pimpinan Ponpes Miftahul Huda, Ustad Nusyahidin dan M Khotib.

Setelah melihat peragaan dan mendengar keterangan saksi, massa yang berkumpul di MUI sejak pagi, menuding aliran Kunci Suci pimpinan Ust. Nursyahidin Salim itu sesat dan tidak sesuai dari ajaran Islam.

"Aliran ini sesat, sudah melenceng dari ajaran Islam, karena mempercayai ritual yang bisa melihat Tuhan melalui cahaya saat mata kita ditutup," kata salah seorang warga.

Meski warga memvonis sesat, namun dalam pertemuan itu, MUI Serang tidak bisa menetapkan dan menyatakan jika yang diperagakan itu adalah aliran sesat.

"Kami, MUI Serang hanya memberikan laporan hasil pertemuan klarifikasi ini. Mengenai penetapan sesat atau tidanya, itu adalah kewenangan MUI Banten," kata Ketua MUI Serang, KH Syafei AN.

Diduga karena kecewa dengan hasil musyawarah di MUI yang tidak memuaskan, warga itupun segera meninggalkan gedung Islamic Center. Mereka kemudian mendatangi ponpes Miftahul Huda, di Kecamatan Baros dan langsung melakukan pengrusakan serta pembakaran.

Kapolres Serang, AKBP Drs Lilik Heri Setiadi ketika ditemui di lokasi kejadian mengatakan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus pembakaran itu, meskipun sampai saat ini belum mengetahui secara pasti siapa dalang dan pelaku dibalik kejadian tersebut. (ant/suh)

sumber : nu.or.id, Jumat, 14 Desember 2007 11:10

Aliran yang Diduga Sesat Resahkan Warga Kabupaten Gorontalo

Aliran yang Diduga Sesat Resahkan Warga Kabupaten Gorontalo

Gorontalo, NU Online
Sebuah aliran yang diduga sesat atau menyimpang dari ajaran agama Islam di Kabupaten Gorontalo, belakangan ini kian meresahkan warga disekitarnya.

Pasalnya, para anggota aliran tersebut sejak terdaftar di dalam kelompok dzikir mulai kurang bersosialisasi dengan masyarakat.

"Kalau saat ada dizikir mereka mematikan lampu dan setiap anggota yang masuk kelompok tersebut diwajibkan membayar uang pendaftaran. Ini kan aneh," kata salah seorang warga yang di Desa Limehe Barat, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo.

Menurut dia, anggota kelompok dzikir tersebut cukup banyak dan kebanyakan berasal dari wilayah terpencil. “Kalau menurut saya kebanyakan anggotanya adalah orang awam dan datang dari desa terpencil," ujarnya.

Keterangan lain yang berhasil dihimpun, sejumlah anggota kelompok dzikir yang belum diketahui namanya tersebut sebagian besar adalah berasal dari satu keluarga.

“Jadi mereka mengajak orang tua atau tetangganya untuk ikut dan membayarkan sejumlah uang,” ujar Mimi warga lainnya yang mengaku hal tersebut diungkapkan oleh pembantunya yang telah menjadi anggota kelompok dzikir itu.

Bahkan, yang kian meresahkan warga bahwa aliran tersebut diduga memperbolehkan anggotanya untuk bertukar pasangan suami maupun istri. “Makanya itu kami jadi khawatir, terlebih setelah pembantu saya memutuskan untuk tak mau bekerja lagi. Katanya pengen ibadah terus, buat apalagi kerja," ujar Mimi menuturkan perkataan pembantunya.

Warga meminta Majelis Ulama Indonesia segera menelusuri kebenaran dan keberadaan aliran sesat tersebut untuk meredam keresahan masyarakat setempat. (ant/iqb)

sumber : nu.or.id, Rabu, 5 Desember 2007 20:12

Aliran Sesat Jam'iyah Islamiyah Di Jambi Masih Eksis

Aliran Sesat Jam'iyah Islamiyah Di Jambi Masih Eksis

Jambi, NU Online
Kegiatan Jam’iyah Islamiyah yang dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih eksis di Jambi dan dijalankan oleh pengikutnya, kendati Karim Jamak sebagai pimpinan ajaran itu sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Ketua MUI Jambi, Prof DR Sulaiman Abdulah di Jambi, Sabtu menekankan, aliran Jam’iyah Islamiyah yang berdiri delapan tahun lalu dinyatakan sesat, karena beberapa ajaran dan kegiatannya meyimpang dari ajaran Islam yang yang diwahyukan pada Nabi Muhammad SAW.

"Bahkan sebelum meninggal dunia pun ketua aliran tersebut pernah ditangkap oleh aparat keamanan, namun hingga kini pengikutnya masih tetap melaksanakan ajarannya," tegas mantan Rektor IAIN Jambi tersebut.

Sebagian dari penyimpangan yang dianut aliran Jam’iyah Islamiyah itu, menurut Prof Sulaiman mereka mengakui yang meninggal itu adalah Muhamammad Bin Abdullah, sementara Muhammad Rasullullah sampai saat ini masih hidup dan bersemayam di jiwa pengikutnya, atau setiap pengikut aliran itu adalah Rasul Allah.

Penyimpangan lainnya, pengikut ajaran itu menunaikan ibadah haji tidak ke Mekkah, namun cukup mendatangi suatu tempat di Kabupaten Kerinci, 410 km dari Kota Jambi sebanyak tujuh kali, maka yang bersangkutan sudah dinyatakan haji.

Aliran Jam’iyah Islamiyah itu lahir di Jambi, namun tidak menutup kemungkinan pengikutnya juga ada di provinsi lain di Indonesia, karena sekitar enam tahun lalu warga asal Palembang dan Lampung banyak yang datang ke Kerinci untuk menunaikan ibadah haji sesuai ajaran aliran tersebut.

Melihat masih berlangsungnya kegiatan aliran tersebut, MUI Jambi sudah melaporkan kembali pada aparat keamanan yang tergabung dalam tim Pengawas Agama dan Kepercayaan Masyarakat (Pakem) agar segera menghentikan dan menangkap ketuanya.

Sementara tindakan yang dilakukan MUI sendiri adalah membentengi umat Islam lainya jangan sampai terpengaruh dan mengikuti aliran sesat Jam’iyah Islamiyah tersebut, termasuk Al-Qiyadah, kendati belum sempat berkembang di Provinsi Jambi, ucap Sulaiman. (ant/si)

sumber : nu.or.id, Sabtu, 3 November 2007 15:05

MUI Sumenep Tolak Kehadiran LDII

MUI Sumenep Tolak Kehadiran LDII

Sumenep, NU Online
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menolak kehadiran Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) karena diduga menganut aliran Islam eksklusif.

Ketua MUI Kabupaten Sumenep, KH Syafraji, mengakui jika kader dan pengurus LDII seringkali asuan (mendatangi) MUI untuk kembali kepada jalan yang benar atau "rujuk ilal haq" tapi niat baik itu belum bisa diterima sebelum dilakukan inspeksi mendadak (sidak) atau pengawasan secara menyeluruh (survie) terhadap kegiatan LDII.

Menurut dia, kegiatan LDII jauh menyimpang dengan ajaran Islam yang mayoritas dianut banyak orang, semisal menganggap najis kepada orang lain sebelum dibaiat, menghalalkan praktek tukar menukar istri bagi amir (pimpinan), serta banyak prilaku lainnya yang masih butuh pemurnian.

"Jadi, sebelum LDII diterima, MUI butuh waktu dan akan memasukkan kegiatan didalam kelompok mereka," katanya.

Kegiatan dimaksud, sambugnya, semisal menjadi khotib salat Jumat maupun kegiatan keagamaan lainnya sehingga tidak lagi menjadi kelompok Islam eksklusif.

Ia mengatakan, dengan perilaku LDII yang tidak sama dengan organisasi keagamaan lainnya, masyarakat sempat akan melakukan anarkis kepada pengikutnya, tapi semua ulama masih mempertimbangkan dan melarang keras untuk main hakim sendiri.

Sedangkan agenda MUI ke depan, kata dia, akan melakukan komunikasi dengan aparat penegak hukum, yang meliputi kejaksaan, kepolisian, serta elemen lainnya termasuk Departemen Agama (Depag) guna membicarakan keberadaan LDII termasuk kemungkinan masuknya aliran sesat ke wilayah Sumenep.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada aliran sesat yang meresahkan masyarakat, bahkan MUI terus melakukan pemantauan dan koordinasi hingga kepelosok desa guna mendeteksi aliran sesat yang sedang marak di tanah air.

Sementara itu, Ketua DPD LDII Kabupaten Sumenep, Drs Musaheri membantah jika masyarakat muslim yang tergabung dalam organisasi keagamaan LDII menganut Islam eksklusif.

"Sangat tidak benar jika LDII menganut Islam eksklusif," kata Musaheri yang juga PNS Diknas Sumenep ini.

Menurut dia, tidak seharusnya MUI menolak LDII, menjauhi, atau apriori, sebab, kegiatan LDII dilakukan secara terbuka di 13 pengurus anak cabang (PAC) dan tiga Pengurus Cabang (PC), yakni Kota, Kalianget dan Saronggi. "Silahkan masuki kegiatan LDII biar semuanya tahu yang sebenarnya,".

Menurut dia, jika masih ada anggapan tukar menukar istri, dan menganggap najis kepada orang lain, merupakan paradigma lama yang tidak sesuai dengan realita LDII saat ini.

Ia mengaku pernah mengundang MUI untuk tukar pendapat agar semua persoalan yang saat ini belum cair dapat difahami bersama dan terbangun ukhuwah Islamiyah tapi tidak pernah hadir.

LDII mempunyai AD/ART, kata dia, bahkan mempunyai program kerja yang jelas yang tidak bisa dirahasikan dan semua orang pasti mengetahuinya. "Kami hanya ingin menegakkan nilai-nilai Al-Quran dan al-Hadits," katanya.

Tapi jika ada perbedaan dalam menafsirkan hadits dalam persoalan ibadah, sambungnya, tidak ada masalah dan merupakan sikap yang sah, sebab, di NU sendiri juga seringkali terjadi perbedaan pandangan. (ant/san)

sumber : nu.or.id, Jumat, 9 November 2007 16:12